About Me

Wednesday, 6 March 2013

Campuran Aneh Obat Pelangsing: Dari Telur Cacing Hingga Narkoba


Susahnya menurunkan berat badan membuat orang berupaya mencari jalan pintas, yakni minum obat pelangsing. Celakanya, tidak semua obat pelangsing aman dikonsumsi. Sering ditemukan kandungan berbahaya dari telur cacing hingga narkoba.

Beberapa bahan berbahaya yang sering ditemukan dalam obat pelangsing adalah sebagai berikut:

1. Telur Cacing



Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pernah menemukan jamu pelangsing tradisional dengan kandungan yang tidak wajar, yakni telur cacing pita. Diyakini, jamu semacam ini sudah tidak ada lagi di pasaran.

"Logikanya sederhana, jamu yang mengandung telur cacing itu diminum dan diharapkan cacingnya tumbuh. Kan orangnya jadi kurus karena cacingan," kata Drs Bahdar Johan dari BPOM beberapa waktu silam.

Biasanya setelah berat badan turun, pasien diberi obat cacing untuk mengeluarkan cacing-cacing yang sudah selesai 'menunaikan' tugasnya.

2. Sibutramin HCl



Obat ini bisa menurunkan berat badan dalam waktu singkat, namun memiliki efek samping yang sangat berbahaya sehingga tidak boleh digunakan. Di antaranya adalah memicu susah tidur, kejang, pandangan kabur dan yang paling parah bisa meningkatkan risiko stroke dan serangan jantung.

"Mekanisme sibutramin ini kerjanya di sistem saraf pusat dengan menghambat re-uptake dari noradrenalin, serotonin dan dopamin," ujar Dra Endang Woro Tedjowati, M.Sc dari BPOM.

3. Diuretik



Peluruh kecing atau diuretik juga sering ditemukan dalam obat-obat maupun jamu pelangsing. Efeknya adalah membuat orang banyak kencing, sehingga berat badan cepat turun. Namun karena yang berkruang adalah cairan tubuh dan bukan lemak, maka risikonya adalah stroke dan gangguan jantung.

"Jangan minum obat yang membuat seseorang jadi sering buang air kecil atau buang air besar. Karena sekitar 65-70 persen tubuh terdiri dari cairan, sehingga bisa menyebabkan dehidrasi," ujar dr Johannes Chandrawinata, MND, SpGK, anggota PDGKI (Perhimpunan Dokter Gizi Klinis Indonesia) Jawa Barat.

4. Amfetamin



Semula, amfetamin memang diciptakan sebagai obat pelangsing karena bisa menekan nafsu makan sekaligus mendongkrak stamina. Namun karena memiliki risiko adiksi atau kecanduan yang cukup tinggi, obat ini dimasukkan dalam kategori psikotropika golongan II. Secara struktur, masih berkerabat dengan narkoba yang populer di dunia gemerlap (dugem) yakni ekstasi.

Obat pelangsing dengan kandungan amfetamin saat ini sudah tidak digunakan oleh para dokter gizi.

5. Dietilpropion



Karena amfetamin dianggap berbahaya, akhirnya dikembangkanlah turunan amfetamin yang disebut dietilpropion yang memiliki efek sama di susunan saraf pusat yakni menekan nafsu makan tetapi tidak terlalu memicu kecanduan. Obat ini masih dipakai sampai sekarang, namun dikategorikan sebagai obat keras yang hanya bisa dibeli dengan resep dokter.

Bila dipakai di bawah pengawasan dokter, obat ini relatif aman meski dibatasi hanya untuk penderita obesitas parah. Namun jika disalahgunakan, risikonya sama seperti amfetamin yakni tidak doyan makan dan akhirnya kurang gizi.

Sumber: http://health.detik.com

3 comments:

  1. KHASIAT DAN KEGUNAAN :

    1. Mereka yang menderita obesitas abdominal atau perut bir lumbo.

    2. Mereka yang menderita obesitas atau obesitas nutrisi pasca melahirkan.

    3. Mereka yang makan terlalu banyak atau mengambil dalam minyak berlebihan per hari.

    4. Mereka yang menderita overnutrition atau kurang olahraga.

    5. Mereka yang menderita obesitas disebabkan oleh pekerjaan yang tidak banyak bergerak atau mengemudi konstan.

    6. Mereka yang khawatir tentang efek samping atau obat-obatan atau kelemahan kulit setelah kehilangan berat badan.

    7. Mereka yang telah mencoba metode pelangsingan berbeda namun dengan efek samping . by FatmaFarma.com

    ReplyDelete
  2. ngeri sekali yaa, mending yg alami alami aja :) http://produkmelilea.net

    ReplyDelete