Blogger Tips And Tricks|Latest Tips For Bloggers Free Backlinks
                                                                                                     Find us on:   

Wednesday, 11 January 2012

Sejarah dan Rincian Peraturan Offside Dalam Permainan Sepakbola


Sejarah dan asal usul peraturan offside dalam sepak bola ternyata cukup panjang dan tidak sesederhana seperti yang kita bayangkan. Jika tim favorit kita berhasil membobol gawang lawan rasanya senang sekali walaupun itu offside, sang hakim garis pun tahu dan akhirnya wasit menyatakan gol tidak sah, akhirnya penonton pun hanya bisa kecewa dan memaki wasit. Nah apa dan bagaimana sebenarnya offside dalam sepak bola itu?

Asal-usul istilah ‘offside’

Istilah ‘offside’ diambil dari dunia militer. Dalam militer dikenal istilah ‘off the strenght of his side’, yang berarti status bebas tugas. Ketika seorang tentara dibebastugaskan, dia tidak akan mendapat keistimewaan dan gaji seperti biasanya. Prinsip tersebut digunakan dalam sepakbola. Ketika seorang pemain berada dalam posisi offside, berarti dia dibebastugaskan alias terlepas dari permainan. Dalam hal ini, yang terjadi adalah sebuah pelanggaran.

Sejarah aturan offside

Catatan sejarah menunjukkan, Inggris telah menerapkan aturan offside sejak tahun 1800-an. Peraturan ini diadopsi dari olahraga Rugby yang juga cukup populer di sana. Konsepnya sama, melarang seorang pemain hanya diam menunggu umpan di depan gawang musuh.


Peraturan offside pertama kali diperkenalkan oleh sebuah klub profesional pada tahun 1985. Klub tersebut adalah Sheffield FC. Sheffield membuat aturan yang melarang seorang penyerang berdiri di dekat gawang lawan. Jika penyerang tersebut menerima umpan dari temannya, maka dia berada dalam posisi offside.

Namun pada masa itu peraturan ini masih bias dan kurang jelas.

Aturan 'Tiga Pemain Belakang'

Muncul banyak perbedaan pendapat tentang aturan offside. Hingga akhirnya Universitas Cambridge mencoba menyatukan berbagai versi dalam sebuah rumusan peraturan baku. Aturan baku ini diterima dan menjadi pegangan pada masa itu.

Aturannya cukup unik dan dikenal sebagai peraturan “tiga pemain belakang”. Dalam peraturan ini seorang penyerang sudah dinyatakan offside meskipun di depannya masih ada tiga pemain belakang lawan, termasuk kiper!

Aturan 'Dua Pemain Belakang'

Ketika FIFA mulai didirikan pada tahun 1904, seluruh peraturan sepakbola termasuk offside mulai dipikirkan secara serius. Asosiasi sepakbola Skotlandia mengusulkan untuk mengganti aturan “tiga pemain belakang” dengan hanya "dua pemain belakang". Seorang penyerang dikatakan offside jika hanya ada dua pemain belakang lawan yang berdiri di antara dia dan gawang musuh.

Perubahan peraturan ini diberlakukan sejak tahun 1925, dan menghasilkan permainan yang lebih atraktif. Karena peluang terjadinya offside lebih kecil, gol yang tercipta pun menjadi lebih banyak.

Dampak Aturan Offside

Peraturan offside telah memicu terjadinya perubahan pola dan gaya permainan. Setiap pelatih dipaksa berpikir keras untuk menaklukkan aturan offside dalam menyerang dan menjadikannya sebuah perangkap jitu dalam pertahanan. Agak lucu jika mengingat pada masa itu pola 2-3-5 menjadi sangat populer. Posisi sweeper pun kemudian dimunculkan untuk menghalau umpan-umpan terobosan lawan yang berpotensi lolos dari jebakan offside.

Aturan 'Satu Pemain Belakang'

Pada tahun 1990, peraturan offside kembali direvisi. Seorang penyerang tidak lagi offside jika dia berada dalam posisi sejajar dengan setidaknya dua pemain belakang terakhir tim lawan (termasuk kiper). Aturan ini mulai diterapkan pada Piala Dunia 1990 di Italia.

Pada tahun 2003, FIFA membuat tambahan peraturan tentang offside yang lebih lunak. Ketika seorang penyerang berada dalam posisi offside, belum tentu akan dinyatakan offside. Sebelumnya hal ini memang bisa terjadi dalam situasi tendangan gawang, tendangan sudut, lemparan ke dalam, dan ketika pemain berada di separuh wilayah lapangan timnya sendiri. Namun FIFA menambahkan pasal baru, seorang pemain bisa dinyatakan tidak offside jika dia tidak terlibat aktif dalam permainan.

Rincian Peraturan Offside yang Dianut Sekarang

Aturan Offside ini sering memicu perdebatan dan kontroversi sejak awal. Namun tanpa ada aturan offside, sepakbola akan menjadi seperti permainan ping-pong dengan lapangan yang besar.

Dalam peraturan FIFA (Law Of The Game) nomor 11 (sebelas) disebutkan tentang aturan offside. Seorang pemain berada pada posisi offside jika memenuhi kedua kondisi berikut ini:

1. Berada dalam posisi kritis, yang mana posisi kritis adalah posisi yang memenuhi ketiga kondisi berikut:
- Pemain tersebut berada dalam daerah setengah lapangan gawang lawan
- Bola belum melewati pemain tersebut (bola masih berada di belakang pemain tersebut)
- Jumlah pemain lawan (termasuk kiper) di antara pemain ini & garis gawang lawan lebih kecil dari 2 (dua)

Untuk lebih jelas mengenai poin terakhir ini (Jumlah pemain lawan < 2), berikut Ki@mhu Blog ilustrasikan gambar berikut (dengan Microsoft Visio):


Pada gambar di atas, pemain yang ingin kita tinjau posisi offsidenya adalah pemain merah yang paling dekat dengan gawang dan daerah di antara pemain ini dengan garis gawang adalah daerah yang diarsir. Yang dalam gambar ini hanya ada satu (lebih kecil dari dua) pemain lawannya (yaitu kiper) berada di dalam daerah tersebut sehingga pemain ini berada dalam posisi kritis.


Sedangkan pada gambar di atas, ada dua (tidak lebih kecil dari dua) pemain lawan di dalam daerah yang diarsir sehingga pemain ini tidak dalam posisi kritis.

Kata di antara pada poin terakhir di atas tersebut haruslah dicermati. Jika ada seorang pemain lawan sejajar dengannya (lihat gambar di bawah), maka pemain lawan ini masih termasuk "berada di antara" pemain ini dengan garis gawang. Jadi, seorang pemain tidak berada pada posisi offside jika ia sejajar dengan pemain lawan urutan kedua terakhir.

A Masih Sejajar Dengan B Sehingga A Tidak Berada Dalam Posisi Kritis
Kata "terakhir" di sini menandakan pemain lawan dengan posisi terdekat ke garis gawang lawan yang dalam gambar di atas, pemain terakhir adalah kiper dan pemain kedua terakhir adalah B.

Catatan:
  • Pemain terakhir dan pemain kedua terakhir tidak harus meliputi kiper, jadi offside tetap berlaku apabila kiper terlambat turun untuk membantu pertahanan lawan.
  • Bagian tubuh pemain yang menjadi titik pembanding apakah suatu pemain berada diantara pemain lawannya dengan garis gawang adalah: kepala, badan, dan kaki tetapi lengan (arm) tidak termasuk.


2. Meraih keuntungan:
Pemain yang berada pada posisi kritis (poin 1) tersebut terlibat secara aktif dalam permainan yang berupa:
- Menyentuh bola tersebut
- Mengganggu pemain lawan (termasuk kiper) dalam mendapatkan, menangkap, dan mengalirkan bola (termasuk juga menghalangi pandangan pemain lawan)
- Mendapatkan bola Rebound (bola pantulan) setelah bola tersebut berbentur dengan pemain lawan (termasuk bola tepisan oleh kiper) dan tiang gawang lawan.

Offside Aktif dan Offside Pasif

Peraturan terbaru FIFA mengenai offside belakangan menjadi semakin rumit terutama yang berkaitan dengan posisi offside aktif dan posisi offside pasif. Namun apabila kita mau memahami, aturan ini tidak serumit yang dibayangkan.

Posisi offside aktif adalah seorang pemain berada dalam posisi kritis (poin 1 di atas) dan juga meraih keuntungan (poin 2) dari posisi offsidenya.
Posisi offside pasif adalah saat seorang pemain yang berada dalam posisi kritis (poin 1) tetapi sama sekali tidak meraih keuntungan dari posisinya yang telah offside itu (poin 2).

Singkatnya, offside pasif adalah pemain yang hanya memenuhi poin 1 di atas, sedangkan offside aktif adalah pemain yang memenuhi poin 1 dan 2.

Pada saat suatu pemain berada dalam posisi offside pasif, hakim garis tetap membiarkan permainan berlangsung sampai pemain itu mendapatkan keuntungan alias offside aktif. Jadi, jangan heran jika hakim garis tidak segera mengangkat bendera setelah dia melihat ada pemain yang berada pada posisi kritis.

Jadi, jika seorang pemain telah menyadari dirinya terjebak dalam posisi offside pasif, dia harus menghindarkan dirinya untuk meraih keuntungan itu agar permainan tetap berlangsung sampai dia tidak berada dalam posisi kritis, barulah dia boleh mengambil keuntungan dari bola itu alias boleh terlibat dalam permainan kembali.

Selain itu, ada tiga pengecualian besar dari aturan offside. Siapapun menerima bola langsung dari sebuah lemparan ke dalam (Throw In), tendangan sudut (Corner Kick), atau tendangan gawang (Goal Kick), tidak dapat dinyatakan “offside”. Namun, jika rekan setimnya telah menerima bola dari ketiga jenis tendangan di atas, maka peraturan offside mulai diberlakukan kembali.
Tetapi, aturan offside tetap diberlakukan dalam penerimaan bola langsung dari tendangan bebas baik yang langsung maupun yang tidak langsung.

Tindak Lanjut Offside

Setelah suatu pemain dinyatakan offside oleh wasit, maka tim lawan mendapatkan hadiah tendangan bebas tak langsung dari posisi titik yang sama persis dengan posisi titik dimana pemain tadi terjebak offside.

Jebakan Offside

Karena sifat dari offside itu sendiri adalah sebuah pelanggaran, sebagaimana pelanggaran lainnya, maka keuntungan berada pada tim yang dilanggar. Tim yang melakukan offside kehilangan bola dan tim yang dilanggar mendapat tendangan bebas. Hal ini memunculkan sebuah taktik bertahan yang bisa disebut "perangkap offside". Caranya cukup sederhana, asalkan sang pemain bertahan jeli dan tidak lepas perhatian secara total dari si striker target. Dengan melihat posisi sang striker dan sang pengumpan, maka para pemain belakang akan berusaha untuk lebih maju dan meninggalkan sang striker dalam posisi offside. Taktik ini biasa digunakan saat akhir pertandingan, ketika stamina para pemain bertahan sudah menurun atau untuk menghemat tenaga karena pelatih tidak punya banyak stok pemain untuk rotasi.

Namun terkadang taktik ini bisa jadi bumerang ketika sang striker cukup cerdik untuk menyadari bahwa dia sedang dijebak kemudian dia kembali pada posisi onside dimana ada daerah yang ditinggalkan defender. Saat itulah insting sang playmaker segera memberikan umpan terobosan kepada sang striker dan striker yang berhasil menguasai bola akan langsung one-by-one dengan kiper. Ketika menerapkan jebakan, biasanya sang target akan dibiarkan saja tanpa mendapat marking atau pressure karena para defender tadi sudah yakin sang target berada dalam jebakan mereka. Maka dengan kombinasi antara kecerobohan para defender, insting dan skill umpan akurat sang playmaker, akselarasi serta naluri gol dari sang striker, jebakan offside bisa jadi "senjata makan tuan" di saat kondisi genting. Yang tidak kalah membahayakan adalah ketika sang striker sudah menguasi bola hasil umpan terobosan dan sang defender terlambat untuk beradu lari, maka sang defender yang panik langsung melancarkan tackling dari belakang yang sangat berbahaya. Tackling ini bisa menimbulkan kartu baik kuning ataupun merah dan resiko cedera dari kedua pemain.

Berikut diberikan contoh ilustrasi dari Ki@mhu Blog mengenai salah satu contoh untuk lolos dari jebakan offside:


Perhatikan gambar di atas, B ingin mengarahkan bolanya ke depan rekan setimnya (A) dengan harapan A berlari ke depan sebelum bisa mengambil bola operan ini. C adalah pemain lawan kedua terakhir (pemain lawan terakhir adalah kiper) sehingga dapat dibuat garis khayal terputus untuk keperluan menentukan posisi offside. Garis khayal ini diambil dari kepala/badan/kaki (bagian tubuh pembanding yang telah dijelaskan sebelumnya) pemain C yang terdekat ke garis gawang. Bintik hitam mengilustrasikan bola.

Setelah itu, B mulai menendang bolanya. Jika A berlari terlalu cepat sehingga dia telah melewati garis khayal ini sebelum bola berada di depannya (bergerak melewatinya), maka A akan terjebak Offside.


Sekarang, Timing pergerakan A sedikit diubah. Ketika B akan menendang bolanya, A berlari ke depan tetapi A menjaga posisinya agar tidak melewati garis khayal ini sebelum bola benar-benar bergerak melewati dirinya.


Dan setelah bola melewati dirinya, A dengan bebas bisa berlari sekencangnya di depan menyambut bola tersebut tanpa terjebak Offside.



Ilustrasi kedua yang sering menjadi kontroversi adalah:


Perhatikan gambar di atas, pada sisi kanan lapangan, salah satu pemain dari tim biru sedang menggiring bola ke pojok kanan (katakanlah pemain A) setelah lolos dari penjagaan beberapa pemain merah. Kemudian A akan mengumpan kepada Pemain biru lainnya yang sedang berlari menuju kotak pinalti (katakanlah pemain B) untuk menyambut umpan dari A. Perhatikan bahwa sesaat sebelum A mengumpan, bola telah berada di depan melewati B (perhatikan garis putus-putus). Jadi, walaupun B telah berada dalam setengah lapangan lawan dan jumlah pemain lawan di antara B dan garis gawang hanya berjumlah 1 (kiper), tetapi bola telah melewati B. Jadi, B tidak berada dalam posisi kritis (baca kembali ketiga kondisi yang membuat seseorang dikatakan berada dalam posisi kritis) sehingga lolos dalam jebakan offside.

Kontroversi dan Dilema Offside

   
                                                             Tidak Offside                                                      Offside

Offside masih sering menjadi kontroversi karena pelanggaran offside terkadang dianggap rumit dan terkadang akan sangat merugikan tim (dianulir gol yang seharusnya sah dan mengesahkan yang seharusnya dianulir) jika wasit ataupun hakim garis dianggap salah dalam mengambil keputusan. Padahal permainan sepakbola adalah permainan dimana semua pemain terlibat aktif dan terus bergerak. Maka dibutuhkan kecermatan dan kecerdasan wasit untuk menentukan pemain tersebut offside atau tidak dalam waktu yang cepat.

Offside ini sendiri menjadi dilema bagi para wasit dan hakim garis. Para wasit dan hakim garis seringkali berada dalam posisi yang kurang menguntungkan ketika menyaksikan posisi pemain. Tidak seperti kita yang bisa melihat tayangan ulang di televisi, bahkan terkadang ada tayangan ulang yang ditambah garis bantu atau daerah yang dihitamkan untuk mempertegas batas offside. Wasit dan hakim garis seringkali tidak bisa mengimbangi kecepatan gerak bola dan perubahan arah pemain yang tidak diduga-duga. Jadi, sebagai pemain dan penonton seharusnya kita bertindak bijak dengan tidak melancarkan protes berlebihan bahkan provokasi. Karena bagaimanapun juga keputusan wasit tidak bisa diubah saat sang peluit sudah ditiup dan wasit juga manusia, punya keterbatasan dalam pengelihatan dan kecepatan. Hal ini memunculkan wacana untuk menggunakan teknologi kamera namun ini juga menimbulkan tentangan dan kontroversi yang malah memperkeruh suasana. So, keep fair play!

Namun offside tetap akan menjadi bumbu yang menyenangkan bagi sebuah permainan sepakbola, banyak intrik dan momen unik terjadi karena aturan ini. Wasit yang cermat dan sudah memahami aturan pasti akan mudah untuk memutuskan mengenai aturan ini. Bagaimana dengan wasit di Indonesia?

Sumber:
http://en.wikipedia.org/wiki/Offside_(association_football)
http://mondo-nero.blogspot.com/2011/12/offside-sumber-kontroversi-taktik.html
http://forum.detik.com/showthread.php?t=128678
http://www.sepaxbola.info/2010/04/asal-usul-dan-sejarah-offside.html

Perluasan kata kunci: pelanggaran, luar posisi, FIFA, aturan offside, onside, bek, terbaru, 2012


Link: http://herman-salim.blogspot.com/2012/01/sejarah-offside-dalam-permainan.html

2 comments:

  1. waaah postingan yang sangat bagus dan sangat memberikan referensi,
    semoga ilmu ini dapat bermanfaat bagi semuanya yah,
    kalau sempat bisa kunjungi blog saya di
    http://merdeka.blog.stisitelkom.ac.id/

    terimakasih ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya.. :)

      Delete

Terima kasih telah berkunjung, Salam Sejahtera!!!