About Me

Jasa Menghapus Malware (Virus) Komputer Tanpa Format

Stres karena laptop bervirus dan tidak ingin diformat? Di sini solusinya.

Jauhi Aplikasi RAM Booster dan Task Killer Pada Android

Sering menggunakan aplikasi pembersih seperti Clean Master? Hati-hati!

Pohon Soekarno, Hadiah Sang Proklamator bagi Arab Saudi

Pohon inilah yang mengurangi efek panas terhadap umat islam yang menuaikan ibadah Haji di sana

Hyperloop Siap Bangun Transportasi Tercepat di Indonesia

Lebih cepat dari pesawat penumpang, hanya kalah cepat dari pesawat tempur. Wow!

5 Bukti Bahwa Smartphone Ubah Manusia Menjadi 'Zombie'

Bukti bahwa kecanduan Smartphone sudah sangat meresahkan.

Showing posts with label Lingkungan. Show all posts
Showing posts with label Lingkungan. Show all posts

Thursday, 11 October 2012

Telepon Genggam Beracun Bagi Manusia dan Lingkungan

handphone,smartphone

Hasil penelitian menunjukkan, telepon terbaik pun masih penuh dengan bahan kimia berbahaya.

Mulai dari proses produksi hingga akhirnya menjadi barang bekas, telepon genggam (handphone) mampu mengontaminasi manusia dan lingkungan. Lebih berbahaya lagi, polusi yang dihasilkan handphone sulit untuk dideteksi.

Demikian hasil penelitian yang dilakukan oleh Ecology Center dari Ann Arbor, Michigan, Amerika Serikat, dan ifixit.com. Mereka membedah 36 model handphone yang berbeda. Tiap satu model handphone setidaknya mengandung satu elemen beracun: timah, bromine, klorin, merkuri, dan kadmium.

Diketahui handphone yang paling sedikit racunnya adalah Motorola Citrus. Sedangkan yang paling "kotor" adalah iPhone 2G. Namun, catatan ini kemudian diperbaiki oleh Apple sebagai produsen iPhone. Dua varian teranyarnya, iPhone 4S dan iPhone 5 menjadi pemuncak dalam daftar lima handphone terbersih.

Wednesday, 16 May 2012

Butuh 1 Bumi Lagi untuk Penuhi Kebutuhan Manusia


Selain mengambil sumber daya hayati secara berlebih, manusia juga tidak sedikit menggunakan sumber daya alam.

Jumlah hewan bernilai seperti harimau dan tuna menurun 30 persen dalam kurun waktu empat dekade terakhir. Namun, di saat bersamaan populasi manusia di dunia meningkat dua kali lipat dengan tingkat konsumsi yang juga mencuat.

Makhluk hidup di air tawar mengalami jumlah penurunan terburuk, sekitar 70 persen. Sedangkan keseluruhan spesies di wilayah tropis mengalami penurunan sekitar 60 persen sejak tahun 1970. Benua Asia bahkan menjadi saksi hilangnya jumlah harimau yang turun 70 persen hanya dalam waktu 30 tahun.

Tuesday, 1 May 2012

Pengelolaan Sampah Obat (Green Pharmacy)


Kita sudah membeli dan mengkonsumsi obat secara bijaksana, tetapi tetap saja ada obat-obatan yang akhirnya tidak terpakai.

Lalu apakah obat tersebut boleh dibuang begitu saja?

Mungkin kita belum menyadari bahwa membuang obat ke lingkungan begitu saja ternyata berbahaya, seperti halnya membuang racun. Ada obat-obat tertentu yang akan terurai menjadi racun, yang berbahaya tidak hanya bagi flora dan fauna, namun juga bagi kita sendiri.

Beberapa jenis obat seperti antibiotik, antiseptik, antivirus, antijamur, anticacing, dll, jika sampai ke tanah, akan menyebabkan ketidakseimbangan flora dan fauna mikro di dalam tanah, karena dapat membunuh mikroorganisme normal.

Selain itu, obat-obatan bekas yang dibuang akan mencemari air tanah. Atau yang dibuang ke saluran air akhirnya mengalir ke laut, mencemari ikan dan mahluk laut lainnya yang pada akhirnya masuk ke dalam perut kita.

Sunday, 29 April 2012

Mengahadang Tsunami Lestarikan Mangrove


Menapaki Hari Bumi sepekan lalu, mengingatkan manusia dengan bumi yang kian menua. Banyak faktor mempengaruhi tingkatan kerusakan alam Indonesia khususnya hutan. Menelisik lebih spesifik terhadap hutan yang menjaga dua ekosistem sekaligus antara laut dan darat, hutan mangrove merupakan hal terpenting bagi bumi kita. Indonesia memiliki hutan mangrove terluas di dunia, khususnya pesisir pulau Sumatera.

Berdasarkan data dunia, luas hutan mangrove Indonesia mencapai 25 persen dari total hutan mangrove di seluruh dunia (18 juta Ha) atau sebesar 4,5 juta Ha dari total luas hutan secara keseluruhan. Berdasarkan data Departemen Lingkungan Hidup Indonesia sebesar 9,38 juta hektar hutan mangrove, 48 persen diantaranya rusak sedang dan 23 persen rusak parah.